Cari Blog Ini

Memuat...

Jumat, 14 Mei 2010

Apakah Sosiologi Sastra Itu??

SOSIOLOGI SASTRA

1. Latar Belakang Masalah

Sosiologi sastra sebagai suatu jenis pendekatan terhadap sastra memiliki paradigma dengan asumsi dan implikasi epistemologis yang daripada yang telah digariskan oleh teori sastra berdasarkan prinsip otonomi sastra. Penelitian-penelitian sosiologi sastra menghasilkan pandangan bahwa karya sastra adalah ekspresi dan bagian dari masyarakat, dan dengan demikian memiliki keterkaitan resiprokal dengan jaringan-jaringan sistem dan nilai dalam masyarakat tersebut (Soemanto, 1993; Levin, 1973:56).

Sebagai suatu bidang teori, maka sosiologi sastra dituntut memenuhi persyaratan-persyaratan keilmuan dalam menangani objek sasarannya.Istilah "sosiologi sastra" dalam ilmu sastra dimaksudkan untuk menyebut para kritikus dan ahli sejarah sastra yang terutama memperhatikan hubungan antara pengarang dengan kelas sosialnya, status sosial dan ideologinya, kondisi ekonomi dalam profesinya, dan model pembaca yang ditujunya. Mereka memandang bahwa karya sastra (baik aspek isi maupun bentuknya) secara mudak terkondisi oleh lingkungan dan kekuatan sosial suatu periode tertentu (Abrams, 1981:178)

2. Masalah

Masalah dalam pokok pembahasan ini adalah:

a. Bagaimana hubungan masyarakat dengan sastra?

b. Bagaimana hubungan sastra dengan sosiologi?

c. Apakah yang dapat kita ketahui dengan mempelajari hubungan sastra dengan sosiologi?

3. Tujuan

Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah:

a. Menjelaskan bagai mana hubungan sastra dengan sosiologi!

b. Menjelaskan bagaiman nilai masyarakat yang terkandug dalam sastra!


4. Pembahasan

SOSIOLOGI SASTRA

4.1.Hakikat Sosiologi Sastra

Sosiologi sastra berasal darii kata sosiologi dan sastra sosiologi berasal dari akar kata sosio (yunani) (socius berarti bersama-sama, bersatu, kawan, teman) dan logi (logos berarti sabda, perkataan perumpamaan). Perkembangan berikutnya mengalami perubahan makna, soio atau socius berarti masyarakat, logi tau logos berarti ilmu. Jadi, soosiollogi berarti ilmu mengenai asal-usul dan pertumbuhan (evolusi) masyrakat, imu pengetahuan yang mempelajari keseluruhan jaringan hubungan antar manusia dalam masyrakat, sifatnya umum, rasional, dan empiris. Sastra dari akar kata sas (sansekerta) berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk dan instruksi. Akhiran tra berarti alat, sarana. Jadi, sastra berarti kuumpulan alat untuk mengajar, buku petunjuk atau buku pengajaran yang baik. Makna kata sastra bersifat lebih spesifik sesudaah terbentuk menjadi kata jadian, yaitu kesusastraan, artinya kumpulan hasil karya yang baik.

Sesunguhnya kedua ilmu memiliki objek yang sama yaitu manusia dalam masyarakat. Meskipun demikan, hakikat sosiologi dan sastra sangat berbeda. Sosiologi adalah ilmu objektif kategoris, membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini (dassein) bukan apa yang seharusnya terjadi (das sollen). Sebaliknya, karya sastra jelas bersifat evauatif, subjektif, dan imajinatif. Perbedaan antara sastra dan sosiologi merupakan perbedaan hakikat, sebagai perbedaan ciri-ciri sebagaimana di tunjukkan melalui perbedaan antara rekaan dan kenyataan, fiksi dan fakta.

Ada sejumlah definisi mengenai sosiologi sastra yang perlu dipertimbangkan, dalam rangka nenemukan objektivitas hubungan antara karya sastra dengan masyarakat,antara lain:

1) Pemahaman terhadap karya sastra dengan mempertimbangkan aspek-aspek kemasyarakatannya.

2) Pemahaman terhadap totalitas karya yang disertai dengan aspek-aspek kemasyarakatan yang terkandung di dalamnya.

3) Pemahaman tertadap karya sastra sekaligus hubungannya dengan masyarakat yang melatarbelakanginya.

4) Analisis terhadap karya sastra dengan menpertimbangkan seberapa jauh peranannya dalam mengubah struktur kemasyarakatan.

5) Analisis yang berkaitan dengan manfaat karya dalam membantu perkembangan masyarakat.

6) Analisis mengenai seberapa jauh kaitan langsung antara unsur-unsur karya dengan unsur-unsur masyarakat.

7) Analisis mengenai seberapa jauh keterlibatan langsung pengarang sebagai anggota masyarakat.

8) Sosiologi sastra adalah analisis institusi sastra.

9) Sosiologi sastra adalah kaitan langsung antara karya sastra dengan masyarakat.

10) Sosiologi sastra adalah hubungan searah (positivistik) antara sastra dengan masyarakat.

11) Sosiologi sastra adalah hubungan dwiarah (dialektik) antara sastra dengan masyarakat.

12) Sosiologi sastra berusaha menemukan kualitas interdependensi antara sastra dengan masyarakat.

13) Pemahaman yang berkaitan dengan aktivitas kreatif sebagai semata-mata proses sosiokultural.

14) Pemahaman yang berkaitan dengan aspek-aspek penerbitan dan pemasaran karya.

15) Analisis yang berkaitan dengan sikap-sikap masyarakat pembaca.

Di antara 15 devinisi di atas, definisi nomor 1,2,3,11,dan 12,dianggap mewakili keseimbangan kedua komponen, yaitu sastra dan masyarakat, dengan menberikan prioritas pada definisi nomor 1. Alasannya, pertama, definisi nomor 1 bersifat luas, fleksibel, dan tentative, kedua, secara implisit telah memberikan intensitas terhadap peranan karya sastra. Dengan kalimat lain, definisi nomor 1 berbunyi: analisis terhadap unsur-unsur karya seni sebagai bagian integral unsur-unsur sosiokultural.

4.2. Sejarah Pertumbuhan

Konsep sosiologi sastra didasarkan pada dalil bahwa karya sastra ditulis oleh seorang pengarang, dan pengarang merupakan a salient being, makhluk yang mengalami sensasi-sensasi dalam kehidupan empirik masyarakatnya. Dengan demikian, sastra juga dibentuk oleh masyarakatnya, sastra berada dalam jaringan sistem dan nilai dalam masyarakatnya. Dari kesadaran ini muncul pemahaman bahwa sastra memiliki keterkaitan timbal-balik dalam derajat tertentu dengan masyarakatnya; dan sosiologi sastra berupaya meneliti pertautan antara sastra dengan kenyataan masyarakat dalam berbagai dimensinya (Soemanto, 1993). Konsep dasar sosiologi sastra sebenarnya sudah dikembangkan oleh Plato dan Aristoteles yang mengajukan istilah 'mimesis', yang menyinggung hubungan antara sastra dan masyarakat sebagai 'cermin'.

Pengertian mimesis (dalam bahasa Yunani: perwujudan atau peniruan) pertama kali dipergunakan dalam teori-teori tentang seni seperti dikemukakan Plato (428-348) dan Aristoteles (384-322), dan dari abad ke abad sangat memengaruhi teori-teori mengenai seni dan sastra di Eropa (Van Luxemburg, 1986:15).

Menurut Plato, setiap benda yang berwujud mencerminkan suatu ide asti (semacam gambar induk). Jika seorang tukang membuat sebuah kursi, maka ia hanya menjiplak kursi yang terdapat dalam dunia Ide-ide. Jiplakan atau copy itu selalu tidak memadai seperti aslinya; kenyataan yang kita amati dengan pancaindra selalu kalah dari dunia Ide. Seni pada umumnya hanya menyajikan suatu ilusi (khayalan) tentang 'kenyataan' (yang juga hanya tiruan dari 'Kenyataan Yang Sebenarnya') sehingga tetap jauh dari 'kebenaran'. Oleh karena itu lebih berhargalah seorang tukang daripada seniman karena seniman menjiplak jiplakan, membuat copy dari copy.

Aristoteles juga mengambil teori mimesis Plato yakni seni menggambarkan kenyataan, tetapi dia berpendapat bahwa mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan melainkan juga menciptakan sesuatu yang haru karena 'kenyataan' itu tergantung pula pada sikap kreatif orang dalam memandang kenyataan. Jadi sastra bukan lagi copy (jiblakan) atas copy (kenyataan) melainkan sebagai suatu ungkapan atau perwujudan mengenai "universalia" (konsep-konsep umum). Dari kenyataan yang wujudnya kacau, penyair memilih beberapa unsur lalu menyusun suatu gambaran yang dapat kita pahami, karena menampilkan kodrat manusia dan kebenaran universal yang berlaku pada segala zaman.

Levin (1973:56-60) mengungkapkan bahwa konsep 'mimesis' itu mulai dihidupkan kembali pada zaman humanisme Renaissance dan nasionalisme Romantik. Humanisme Renaissance sudah berupaya membilangkan perdebatan prinsipial antara sastra modern dan sastra kuno dengan menggariskan paham bahwa masing-masing kesusastraan itu merupakan ciptaan unik yang memiliki pembayangan historis dalam zamannya. Dasar pembayangan historis ini telah dikembangkan pula dalam zaman nasionalisme Romantik, yang secara khusus meneliti dan menghidupkan kembali tradisi-tradisi asli berbagai negara dengan suatu perbandingan geografis. Kedua pandangan tersebut kemudian diwariskan kepada zaman berikutnya, yakni positivisme ilmiah.

Pada zaman positivisme ilmiah, muncul tokoh sosiologi sastra terpenting: Hippolyte Taine (1766-1817). Dia adalah seorang sejarawan kritikus naturalis Perancis, yang sering dipandang sebagai peletak dasar bagi sosiologi sastra modern. Taine ingin merumuskan sebuah pendekatan sosiologi sastra yang sepenuhnya ilmiah dengan menggunakan metode-metode seperti yang digunakan dalam ilmu alam dan pasti. Dalam bukunya History of English Literature (1863) dia menyebutkan bahwa sebuah karya sastra dapat dijelaskan menurut tiga faktor, yakni ras, saat (momen), dan lingkungan (milieu). Bila kita mengetahui fakta tentang ras, lingkungan dan momen, maka kita dapat memahami iklim rohani suatu kebudayaan yang melahirkan seorang pengarang beserta karyanya. Menurut dia faktor-faktor inilah yang menghasilkan struktur mental (pengarang) yang selanjutnya diwujudkan dalam sastra dan seni. Adapun ras itu apa yang diwarisi manusia dalam jiwa dan raganya. Saat (momen) ialah situasi sosial-politik pada suatu periode tertentu. Lingkungan meliputi keadaan alam, iklim, dan sosial. Konsep Taine mengenai milieu inilah yang kemudian menjadi mata rantai yang menghubungkan kritik sastra dengan ilmu-ilmu sosial.

Pandangan Taine, terutama yang dituangkannya dalam buku Sejarah Kesusastraan Inggris, oleh pembaca kontemporer asal Swiss, Amiel, dianggap membuka cakrawala pemahaman baru yang berbeda dan cakrawala anatomis kaku (strukruralisme) yang berkembang waktu itu. Bagi Amiel, buku Taine ini membawa aroma baru yang segar bagi model kesusastraan Amerika di masa depan. Sambutan yang hangat terutama datang dari Flaubert (1864). Dia mencatat, bahwa Taine secara khusus telah menyerang anggapan yang berlaku pada masa itu bahwa karya sastra seolah-olah merupakan meteor yang jatuh dari langit. Menurut Flaubert, sekalipun segi-segi sosial tidak diperlukan dalam pencerapan estetik, sukar bagi kita untuk mengingkari keberadaannya. Faktor lingkungan historis ini sering kali mendapat kritik dari golongan yang percaya pada 'misteri' (ilham). Menurut Taine, hal-hal yang dianggap misteri itu sebenarnya dapat dijelaskan dari lingkungan sosial asal misteri itu. Sekalipun penjelasan Taine ini memiliki kelemahan-kelemahan tertentu, khususnya dalam penjelasannya yang sangat positivistik, namun telah menjadi pemicu perkembangan pemikiran intelektual di kemudian hari dalam merumuskan disiplin sosiologi sastra.

4.3.Sosiologi Sastra Indonesia

Sosiologi sastra Indonesia dengan sendirinya mempelajari hubungan yang terjadi antara masyarakat Indonesia dengan sastra yang ada di Indonesia, gejala-gejala baru yang terjadi sebagai akibat antar hubungan tersebut. Di indonnesia sosiologi sastra diperkenalkan pertma kali melalui

Dengan disiplin sosiologi dan sastra yang telah diungkapkan di atas, maka kualitas penelitin sastra ditentukan oleh peranan ilmu lain yang membantu didalamnya. Selain sosiologi ilmu bantu yang diperlukan diantaranya : Sejarah, Pisikologi, agama dan masalah-masalah kebudayaan lainya.

Dikaitkan dengan wilayah geografis Indonesia yang sangat luas, dengan kekayaan dan keaneka ragaman dudaya khususnya tentang khazanah sastranya, maka aspek-aspek penelitin sosiologi sastra merupakan kajian yang tidak habis-habis. Keanaka ragaman tersebut terjadi karena:

a. Kondisi sosial yang berbeda-beda

b. Ciri-ciri dan sifat sastra yang dihasilkan dengan sendirinya berbeda-beda.

Sampai saat ini, penelitian sosiologi sastra lebih banyak memberikan perhatian perhatian pada sastra nasional, sastra modern, khususnya mengenai novel. Dikaitkan dengan masyarakat sebagai latar belakang kreatif, masalah yang menarik adalah kenyataan bahwa masyarakat berada dalam posisi berubah yang dinamis, yang disebabkan oleh pengaruh-pengaruh kebudayaan barat. Sebgai respon interaksi sosial, maka karya sastra yang dihasilkan pun secara terus menerus berganti baru, sesuai dengan tanggapan pengarang terhadap proses perubahan tersebut.

Proses yang agak jelas dan formal tampak pada periode seperti: Balai Pustaka, (masalah tradisi, adat-istiadat, dan orientasi primordial pada umumnya) Pujangga Baru ( masalah nasonalisme, emansipasi, dan perjuanga melawan penjajah), periode ‘45’ (masalah kebabasan secara universal), periode 70-an dan seterusnya ( masalah kebebasan dan usaha-usaha untuk menemukan identitas bangsa). Dalam periodesasi jelas terkandung sejumlah ciri-ciri yang bersifat umum, yang mengorganisasikan sistem literer kedalam suatu paradigma yang ralatif sama. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa ciri-ciri analisis sosiologis menjadi sama. Masalah pokok sosiologi sastra adaalah karya sastra itu sendiri karya sebagai aktivitas kreatif dengan ciri yang berbeda-beda.

Kedua gejala sastra diatas,sastra regional dan sastra nasional menawarkan berbagai aspek penelitian yang berkaitan dengan sosiologi sastra.keduanya yang di bedakan melalui bahasa sebagai meduium, dan permasalahan yang di sampaikan oleh pengarangnya. Meskipun demikian, sebagai objek penelitian,keduanya tetap sama,artinya metode dan teori yang di gunakan untuk memahaminya sama.

Studi sosiologi di dasarkan atas pengertian bahwa setiap fakta kultural lahir dan berkembang dalam kondisi sosiohistoris tertentu. Sistem produksi karya seni, karya sastra khususnya,di hasilkan melalui antarhubungan bermakna, dalam hal ini subjek creator dengan masyarakaat. Meskipun demikian,system produksi karya sastra tidak di dasarkan atas komunikasi linear antara pengarang, penerbit, patron, dan masyarakat pembaca pada umumnya, melainkan juga tradisi dan konvensi literer.

Analisis sosiologis tidak bermaksud untuk mereduksikan hakikat rekaan kedalam fakta, sebaliknya sosiologo sastra juga tidak bermaksud untuk melegitimasikan hakikat fakta kedalam dunia imajinasi. Tujuan sosiologi sastra adalah meningkatkan pemahaman terhadap sastra dalam kaitannya dengan masyarakat, menjelaskan bahwa rekaan tidak berlawanan dengan kenyataan. Karya sastra jelas dikonstruksikan secara imajinatif, tetapi kerangka imajinatifnya tidak bisa dipahami diluar kerangka empirisnya. Karya sastra bukan semata-mata gejala individual, tetapi juga gejala sosial .

Analisis sosiologis memberikan perhatian yang besar tehadap fungsi-fungsi sastra, karya sastra sebagai produk masyarakat tertentu. Konsekuensinya, sebagai timbal balik, karya satra musti membrikan masukan, manfaat, terhadap struktur sosial yang menghasilkannya.

5. Penutup

a. Kesimpulan

Sosiologi sastra merupakan hubungan antara disiplin ilmu sastra dan ilmu ssosiologi untuk memberi penjelasan yang mendalam mengenai gambaran yang lebih mendalam mengenai hubungan kemasyarakata yang terdapat dalam suatu karya sastra. Disiplin ilmu sosiologi yang digunakan dalam penelitian sastra hanya berfungsi sebagai alat bantu agar lebih memahami aspek-aspek sosial yang menjadi muatan dalam suatu karya sastra.

b. Daftar Pustaka

Ratna, Yoman Khutha.2003.Paradigma Sosiologi Sastra.Pustaka Belajar:Jakarta.

Mahanaya, Maman S.2005.9 Jawaban Sastra Indonesia.Bening Publishing:Jakarta.

Aminudin.2000.Pengantar Apresiasi Karya Sastra.Sinar Baru Algensindo:Bandung.

Tidak ada komentar: